yang kunamakan sajak, hanyalah gelisah yang sederhana, kata yang bersahaja
HENDAK KE MANA
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Casino Royale atau Black Dahlia Bandung Super Mall atau Parijs van Java hendak ke manakah kita? Taman Kliningan, 29/11/06, 10:04:21
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Comments
Anonymous said…
tidakkah kau lihat? kita tengah menuju dunia dengan penuh warna, meski itu harus membunuh jutaan warna yang dianggap biasa.
kita sedang menuju ke dalam sesuatu yang mewah itu, lantas kita terbunuh di dalamnya karena tak lagi bisa mengerti, mana yang nyata dan mana yang hanya mimpi.
kita bahkan tidak sedang kemana-mana sesungguhnya. hanya mampir ke dalam pikiran para hipokrit yang makin lama makin anjing itu!
— ♪♫ “Because” , The Beatles karena bumi berputar, aku nanar karena angin mabuk, benakku berkecamuk karena langit biru, aku jatuh haru Jl. Gumuruh 38, Selasa, 18 Desember 2012, 15:33
Oleh FHQ Barangkali tidak ada yang dapat mengubati duka nestapa yang dialami mangsa gempa bumi di Padang Sumatera Barat 30 September lalu. Gempa bumi berukuran 7.6 skala richter yang mengorbankan ribuan nyawa itu bukan saja menggegarkan Sumatera malah turut menggegarkan hati nurani penulis dan penyair di Kota Kinabalu, Sabah. Puluhan penyair di Kota Kinabalu berhimpun untuk majlis Baca Puisi Teluk Likas- Tangisan Padang-, anjuran Ikatan Penulis Sabah (IPS) dengan kerjasama Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Cawangan Sabah. Mereka mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap tragedi itu sambil berpuisi. Pembacaan puisi dimulakan dengan penampilan deklamator Ali Amat Anas yang membacakan puisi Ready Susanto, penyair dari Bandung yang mengirimkan puisi untuk dibacakan dalam majlis itu berjudul Suatu Padang . dan tibalah jua aku di suatu padang, reruntuh gedung dan ribuan orang berpulang menjumpaimu, suatu pertemuan belum terlunaskan Gedung-gedung runtuh dan ribuan manusia terkorban merupakan su...
Comments
kita tengah menuju dunia dengan penuh warna, meski itu harus membunuh jutaan warna yang dianggap biasa.
kita sedang menuju ke dalam sesuatu yang mewah itu, lantas kita terbunuh di dalamnya karena tak lagi bisa mengerti, mana yang nyata dan mana yang hanya mimpi.
kita bahkan tidak sedang kemana-mana sesungguhnya. hanya mampir ke dalam pikiran para hipokrit yang makin lama makin anjing itu!