— Seraya teringat Tuan Poespo Di sana sejarah menunggumu dengan selembar sketsa, peta jalan yang kugambar di halaman kosong di belakang buku logika. Kau ingatkah doktor filsafat kita yang gelarnya lebih dari tiga? Ia menuntun kita menafsir rasa sedih, yang dimekarkan di sekujur jalan sejak pagi, ketika petugas jaga baru saja bubar dan pulang selepas dinihari. Sketsa yang buram, warnanya cokelat menua (aku mungkin pakai pensil merek murah, ya?) . Semurah itukah engkau memberi harga ketukan di pintu kamarmu? (Meski dengan senyuman terkembang yang selalu saja kurasa tak ternilai mahalnya). Jalan sepenggal yang tergambar di sana, seperti tubuh yang kaku, dengan satu ujung bercabang ke utara. Simpang utara yang bercabang marah dan ragu. Engkau akan temukan persinggahan di pengujung yang satu, tempat yang selalu penuh sedih dan haru. Aku menafsirkan kembali sketsa rasa sedih itu untukmu, dengan gelak dan mimik yang terlucu. Dan engkau pun menangis, sia-sia kukatakan padamu untuk menunggu pet...
Comments
kita tengah menuju dunia dengan penuh warna, meski itu harus membunuh jutaan warna yang dianggap biasa.
kita sedang menuju ke dalam sesuatu yang mewah itu, lantas kita terbunuh di dalamnya karena tak lagi bisa mengerti, mana yang nyata dan mana yang hanya mimpi.
kita bahkan tidak sedang kemana-mana sesungguhnya. hanya mampir ke dalam pikiran para hipokrit yang makin lama makin anjing itu!